Ya Allah, Ampunin aku

Ya Allah, Ampunin aku

Tak terasa sudah hari – hari yang aku lewati sudah berlalu dan mulai bahkan bisa dikatakan dewasa, banyak sudah lemabaran sejarah yang telah aku lewai dari balita, tk bahkan remaja hingga menuju dewasa ini mungkin guratan dosa, noda dan aneka kenikmatan telah malang melintang sengaja atau tidak sengaja aku lakukan dan ternyata “aku bukalah manusia suci yang tidak terlepas dari dosa. Ar-Rohman, Allah maha penyayang Dia tidak menampakan wujud dosa yang tidak kasat mata tapi dosa itu tetap ada, subhanallah ini baru aku rasakan dewasa ni… andaikan dosa itu bisa terlihat oleh mata maka ia akan menjadi aib yang memalukan bagi setiap pelakunya.

Namun sekecil apapun dosa yang kita perbuat tetap saja tidak bisa terlepas dari jilatan api neraka yang obatnya adalah Taubat dan Istigfar.

Sebuah bait lagu yang liriknya sangat aku gemari “wahai tuhan ku tak layak kesurgaMu namun tak juga aku takut kenerakaMU

Dosa – dosaku bagaikan pepasir di pantai…”

Aku malu untuk menuju surga tapi aku sangat takut dengan jilatan api neraka, ya mungkin aku bagaikan memakan buah simalakamah. Ya Allah ampunin aku, gumamku dalam hati.

“selagi Matahari masih terbit dari sebelah timur dan tenggelam dari sebelah barat Allah masih membukan pintu tobatNya seluas – luasnya lain halnya kalau matahari terbitnya dari sebelah barat maka pintu tobat sudah tertutup yang ada adalah hari pembelasan”

Ini pertanda bahwa Allah mengakui bahwasanya bahwa kita manusia adalah makhluk tempatnya salah dan dosa sementara Dia menyatakan bahwa ampunan dan rahmatNya lebih luas dari pada banyaknya dosa kita tapi mengapa kita tidak beranjak dan bangkit dari gemilang dosa…

Ketika istigfar dan taubat disebut secara beriringan dalam satu ayat maka istigfar lebih dimaksudkan pada permohonan ampun sedangkan taubat lebih dimaksudkan pada meninggalkan dosa dan tidak mengulanginya lagi namun kadang – kadang istigfar disebut tanpa diiringin oleh taubat.

Dan sudah selaknya seorang muslim menyempatkan waktu untuk bersujud menghadap Allah berdo’a memohon ampun dengan penuh kosentrasi dan pengharapan salah satu sebab terpentingnya dikabulkannya doa adalah kehadiran hati dan harapan akan dikabulkanya do’a tersebut.

“sesungguhnya hati bagaikan bejana sebagiannya lebih luas dari sebagiannya yang lain jika kalian meminta kepada Allah”.

BERSAING SECARA SEHAT

Berlomba – lomba untuk mendapat ampunan Allah dan Menggapai surga yang luasnya seluas langit dan seluas bumi…

Allah menggunakan kata sabiqu dalam surat Qs. Al-Hadid: 21 yang terkandung makna bersegera atau berlomba – lomba. Berlomba – lomba berarti berkompetisi dengan manusia yang berkualitas untuk mendapatkan hadiah dari Allah swt yaitu surga yang luasnya seluas langit dan seluas bumi. Untuk menjadi pemenang tidak hanya berkerja keras tapi berkualitas dihadapan Allah swt tetapi apabila kita tidak bisa mengalahkan yang lain secara kualitas berarti usaha kita bisa dikatakan kurang efectif.

Kitab Al-qur’an telah begitu dalam menggugah umat islam agar tidak menjadi manusia yang berpangku tangan tetapi terkadung motivasi untuk menjadi umat yang bekerja keras yang mengawali segala sesuatunya dalam kebaikan. Aqur’an juga tidak mengenal rumus istirahat dalam beramal kebaikan terlebih berhenti memohon ampunan kepada sang pencipta dan permohon ampunan merupakan sudah kebutuhan setiap hambaNya yang sadar atas segala dosa yang pernah diperbuat.

Didalam surat al-Hadid juga menegaskan tentang surga yang luasnya seluas langit dan seluas bumi…..

Mungkin kita akan bertanya – Tanya jika surga luasnya seluas langit dan seluas bumi, maka dimanakah neraka itu sendiri?

Pertanya ini pernah dijawab oleh kaum salaf dan mereka memberikan jawaban dengan pertanyaan balik:

Jika malam telah tiba,lalu dimanakah siang itu berada?”

Dari jawabannya tersebut mengandung dua pengertian yaitu:

Pertama, kalimat itu berarti jika kita tidak mampu melihat malam pada siang hari maka ini tidak berarti bahwa malam itu tidak ada di suatu tempat meskipun kita tidak mengetahuinya demikian juga dengan neraka dia berada dimana saja yang dikehendaki Allah swt.

Kedua, jika suatu siang sedang berada disuatu tempat satu sisi bumi maka malam berada pada sisi yang lain. Demikianlah juga di Illiyin (tempat yang palin tinggi) diatas semua langit dibawah Arasyi Allah sama dengan luasnya langit dan bumi sedangkan neraka berada paling bawah. (asfala safilin)

Dengan begitu Allah telah menjadikan segala dibumi sebagai fasilitas dan sarana untuk beribadah bahkan Allah telah menjadikannya mudah dan akankah kita masih dalam kesombongan kita dengan tidak bersykur atas apa – apa yang telah Allah berikan pada kita. Maka dari itu Allah swt menekankan pada kitapentingnya berkomeptisi atau berlomba – lomba untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya dan menjadi hamba Allah yang berkualitas agar bisa mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi subhanallah…. Allah maha kaya dan maha perkasa.

 

Perempuan – Perempuan Berkebaya

Perempuan – Perempuan Berkebaya

Minggu pagi, saya adalah dari sejumlah perempuan berkebaya berkumpul di tengah – tengah lembaga STKIP Lubuklinggau, sejumlah rasa berkecamuk didalam dada, sejumlah hapalan – hapalan atau kopelan telah berada dalam ingatan dan kertas kecil putih. Pagi itu, kami bagaikan pengantin masal yang menunggu giliran untuk menanti penghulu yang siap untuk menikahkan kami, “yuk kita giring pengantinnya” sela seorang dosen yang berada di tengah – tengah kami, dan senyum simpul terlihat di bibir yang besolekkan lipstick yang beraneka warna…

“Uhh!” kita seperti finalis penyanyi dangdut ya? Sela temen – temen yang lain… Upzzz… saya enggak ikutan ya’…

dari sekian perempuan berkebaya saya mungkin salah satu yang tidak banyak mengenakan pernak – pernik, make upku aja sekenanya aja asal jangan dibilang terlalu polos aja dan gak menggunakan bulu mata palsu yang akan terlihat semakin lentik dan membuat mata indahku.

“Ih gak cantik banget, wong disuruh dandan aja gak mau” celetuk temenku

Ayu.. kamu gak pake make up? Tanya panca.

Emmm… “ah” gak pake aja udah cantik ca’ coba lihat bulu mataku dah lentik, bibirku dah merah. Ih kamu gak cantik banget deh…

Cantik itu gak perlu dandankan…

“wanita gitu lho” jawabnya

Pemandangan pagi itu membuat mata menjadi fresh walaupun rasa deg…deg…degkan sangat terasa, walaupun begitu semangat bermake up riah tak surut dari temen – teman yang tidak pernah sekali menggunakan make up bisa bermake up.

“Ini ujian apa kontes kecantikan?” gumamku dalam hati.

Perempuan berkebaya itu mulai lusu make up di wajahnya tak terlihat lagi, habis bersama menjelang siang, rasa penat terus menyelubunginnya hingga ia tak menghiraukan make upnya. Permpuan berkebaya itu mulai memikirkan jawaban – jawaban apa yang akan mereka berikan saat penguji bertanya. Hatinya mulai berkecamuk saat suara dari microphone memanggilnya dan menghadap penguji…

Perempuan berkebaya itupun terlihat keletihan sepatu high killnya yang dipakainya berganti dengan sandal jepit biasa “totonan yang sangat istimewa” haripun semakin siang tatkala dimana sebagian dari sejumlah perempuan berkebaya telah menyelesaikan ujiannya dan beranjak pulang…

Tapi kami harus menunggu lebih lama penguji kami sedang ada kendala di tengah jalan hingga kami harus menunggu jam 4-an untuk menunggunya sedangkan ini baru jam 2-an waktu yang lumayan buat tidur siang dirumah.

Kelitihan sangat nampak pada perempuan berkebaya itu, bisa dibayangkan kami harus mengenakan kebaya dari pagi sampai malam menjelang itu hal yang sangat membosankan.

Dibawah tangga yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah perempuan berkebaya itu bercengkraman satu sama lain. Entah apa yang ada dibenak mereka masing – masing semua rasa mungkin telah berganti dengan rasa kebosanan.

Jam yang dijanjikanpun telah lewat gerutukan – gerutukanpun terucap dari mulut perempuan berkebaya. Hingga diantara mereka ada yang membatalkan puasanya dan akupun tak tau apa yang membuat mereka melakukan hal itu…

Hal yang telah lama dinantipun tiba, sekitar jam 5 lewatan penguji yang dinantipun tiba, tak enya’ sinar suka terpancar dari muka yang telah lusu dari kebosanan.

Setelah istirahat sebentar, satu – satu dari perempuan berkebayapun menghadapnya sekali menghadap bertiga, rasa deg..deg..deg-anpun muncul kembali pada perempuan berkebaya itu.

Pending, azan magrib telah tiba. Buka puasa yang sangat mengesankan perempuan berkebaya itu duduk diemperan didepan ruangan lembaga STKIP, tak banyak makanan yang dimakan kecuali minuman fresh tea dan isotonic yang cukup melegahka tenggorokan sambil bercengkraman satu sama lain dan segelintir diantara mereka yang melaksanakan sholat magrib…

Ini giliranmu ya yu’ kata temenku

“Iya”, ini adalah akhir dari perjuangan kita kan.

Kalian tau kupu – kupu… Tanya penguji kepada kami?

“Tau pak” jawab kami bertiga.

Lihat kupu –kupu sebelum menjadi kupu-kupu bentuknya sangat buruk tapi setelah terjadi metaforposis ia sangat cantik bahkan banyak yang memuji…

Tuhan telah memberikan contoh yang paling indah, dan itu adalah contoh yang harus kalian tiru…

Kalimat yang sederhana dan akan selalu terngiang untuk ketiga perempuan berkebaya…

Dek’ kalau saya lewat sungai ini kira – kira saya akan tenggelam atau nggak?

“Nggak kok bang, sungainya dangkal kok” salah satu dari mereka berkomentar.

 

Hati Yang Tersakiti

Hati yang tersakiti

Pertama kali aku mengenalmu semuanya biasa-biasa saja dan ketika kau menyatakan kata cintamu padaku, juga biasa saja walaupun itu baru “kau” yang pertama berani “tak ada yang istimewa yang ku lihat dari dirimu, sehingga kuterima engkau menjadi kekasihku hanya untuk mengisi kekosongan hati dan kegiatanku sehari – hari atau lebih tidaknya hanya sebagai temen ngobrol”. “temen ngobrol” itulah yang melintas dipikiran dan benakku saat itu, tapi entah dari mana asalnya mulanya rasa sayang begitu besar muncul, akupun tak tau itu? Seiring berjalannya waktu aku takut untuk kehilangan dirimu, seperti air yang mengalir tenang yang terus mengalir hingga ia mendapati samudra yang luas dan bersatu dalam gelombang – gelombang air yang sangat cantik untuk dipandang oleh mata, “engkau telah menghayutkan aku dalam gelombang-gelombang cintamu”. Kucari titik temu antara perasaan dan cinta yang sesungguhnya pada diriku dan dirimu, “ah” aku peka untuk masalah hati dan perasaanku sendiri… “kau begitu cantik” itu rayuanmu yang pertama kali, ketika kita masih duduk di bangku SMA. Dimana melodi – melodi cinta yang selalu kita dendangkan berdua, roman picisan kita ditepian air yang mengalir di watervang mengawali kisah cinta kita yang mulai merekah indah bak bunga mawar yang merekah indah di taman cinta kita. Dengan kebersamaan kita dengan jadwal yang selalu kita buat tanpa kita menyadari menjadi rutinitas kita seperti jalan bersama pada hari minggu yang sudah menjadi agenda kita untuk sekedar jalan, makan, jogging dan mengerjakan tugas bersama, akhirnya kita terjerat dalam pertalian “pacaran” walau kita masih terbilang masih sangat belia namun “cinta” telah menghipnotis kita menjadi manusia dewasa, itu tak dapat kita hindari bukan?

 

Itu pertama kalinya “aku jatuh cinta” entah itu cinta monyet entah apa tapi diantara kita seperti ada sebuah magnet yang selalu bertarik-tarikan satu sama lain. dan kulabuhkan hatiku padamu. “kau sangat menarik” bisikmu padaku malam itu dimana bulan purnama bersinar terang dan cahaya gemintang bak permata didalam estalase. Aku hanya diam tersipu malu ketika tanganmu meraih jemari – jemariku, dag,dig,dug… jantungku berdebar kencang, aliran darahku seperti membeku, dengan tersipu kutarik kembali tanganku dan kulambaikan, “da..da…da… good night”. Kaupun tersenyum manis padaku, malam itu begitu berarti buatku.

Entah mengapa engkau bisa memilih wanita yang lugu ini, yang jelas – jelas banyak para gadis yang berusaha mencari perhatianmu, dan kepala – kepala yang ingin bersandar dipundakmu… “apa kau tak merasakan itu?”. Pilihanmu untuk menjadi kekasihmu jatuh padaku, akupun tak tau apa istimewanya aku. Kami bagaikan dua ekor kupu – kupu yang menari ditaman cinta yang kami miliki dan tak menghiraukan banyak mata yang iri pada tarian kami, karena hari itu musim semi dimana bunga-bunga bermekaran dihati kami yang sedang dihinggapi virus merah jambu”

Lima tahun kini sudah berlalu, itu hanya masa – masa SMA, dimana aku baru pertama kali mengenal pria sepintar dan setampan dia. “Ingatkah engkau pada rintik hujan ini” dimana kita selalu menantikannya di bendungan air terjun temam ketika kau teriakkan tiga kata cinta hingga suaramu menggema-gema. Dan masih banyak janji yang kau berikan padaku “masih ingatkah engkau pada satu botol sprite yang kita tanam di bawah batang mangga didepan rumahku?” Ah, itu hanya kenangan – kenanganku yang indah ketika masih bersamamu. Kini aku dalam penantian yang tak berujung karena sampai saat inipun kau tak pernah muncul dan mendapatkan kabar darimu…

Ditengah rintikan malam dan lamunanku, sebuah mobil Inova berwarna perak berhenti tepat di depan mataku, disebuah toko “Roti Mariah” dimana tempatku bekerja sekarang karena keterbatasan biaya aku tak bisa melanjutkan study kejenjang yang lebih tinggi. toko ini sebentar lagi akan tutup tapi aku terpangah dengan sosok laki – laki turun dari mobil dengan terburu – buru ia membukakan pintu mobil yang satu lagi. Hatiku mulai dag-dig-dugkan… aliran darahku seperti berhenti aku mulai menerkah – nerkah, apakah ia “Andre” kekasihku dulu. Kekasih yang sampai sekarang aku nantikan, rasa cemas dan penasaran menggelayuti pikiranku, apakah ia tahu kalau aku kerja di toko ini hingga ia ingin menemuiku akupun mulai kegeeran, ah, jangan lebai dunk na’? “kataku dalam hati” mungkin aja ia ingin membeli sesuatu di toko ini atau kebetulan tinggal toko roti ini yang sedang buka malam – malam. Ah, hatiku semakin resah aja.

Upzz…. Benarkah apa yang kulihat sekarang ini? seorang wanita cantik dengan mengenakan baju gamis dengan stelan jilbab panjang berwarna putih keemasan turun dari mobil bersama andre. Akupun mulai mundur secara teratur, langkah demi langkah, kulihat disana hujan rintik begitu deras, “ah” andre apakah kau tak ingat dengan hujan rintik ini, apa engkau memang tak mau mengingatnya. Kulihat ia dari balik kaca dapur, kupandangin ia dari jarak yang lumayan jauh. Dia sudah banyak berubah dari yang dulu pernah kukenal, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhku aku tak kuat melihat kemesraan yang mereka tampilkan berdua, ingin rasanya aku lemparkan nampan kue ini kekepalanya….

Lama aku termangu dibalik kaca dengan bercabik – cabik luka yang tanpa jatuh dari langit ketujuh tapi aku merasakan goresan luka itu semakin parah.

Ana…. Ada yang mau pesen kue pengantin ne, coba kamu layani dulu ya… aku terkagetkan dengan mbak selvi, emang kalau bagian kue pengantin bagianku karena banyak pelanggan yang sangat terpuaskan dengan buatan kue pengantinku yang begitu unik dan enak jadi nggak salah kalau aku menjadi “pegawai emas” di tempat ini.

Dengan mata berkaca – kaca aku melangkah, mau kue seperti apa pak? Kataku dengan memendam gejolak rindu yang tak terbendung lagi, rasa malu karena pendidikan rendahku, entah rasa apa yang hinggap di hatiku. Taukah kamu tanpa dengan pisau tajammu kau mampu menusuk diriku tepat pada “jatung hatiku” apakah kau merasakannya?. Aku yakin kau tak merasakannya karena terlalu larut dalam kebahagianmu sendiri, aku terlalu bodoh? Menunggu mahkluk laki – laki sepertimu hingga mengabiskan waktu lima tahun hanya kesia-sia yang kudapat.

Emm… ana? Keterkejutan yang kau pancarkan dari muka penghiatan darimu hanya membuatku semakin enek melihatmu. Kamu tau betapa ingin aku membunuhmu saat ini juga tapi itu tidak mungkin karena aku terlalu sayang padamu. Dulu hati ini sangat bahagia bila ada didekatmu tapi sekarang hati ini tersakiti tepat terakhir kalinya aku mendapatimu ditempat yang sama sekali tak kuduga. Jelas pada saat rintik hujan yang sudah kita tunggu sejak lama tapi rintik hujan itu hanya membuat perih luka dihatiku.

 

 

 

 

 

 

Beautiful Girl….

Beautiful Girl….

Wahai perempuan yang cantik

tanpa mutiara, perhiasan dan emas

engkau lebih elok dari bunga yang ada di taman..

lebih indah dari kalung emas, mutiara bahkan berlian

tapi dengan puji – pujian yang terus mengalir deras dari bibir mungilmu…

bagai rintikan hujan… kilaun embun…cahaya sang mentari… dan gumpalan awan yang beriringan di langit yang biru….

Disetiap sujud, do’a Muqraqobah dan semburat cahaya pagi dari cela – cela dinding…

Yang memancarkan dari Rosul dan Rabb-Mu Maka engkau adalah

Perempuan yang paling cantik diantara penghuni Dunia

Dari hati tulusmu yang dibangun dari taqarrub….

Masih adakah pondasi itu…..

Lihatlah sebongkah kayu yang terombang ambing pada derasnya air sungai dan ia terjebak pada situasi yang sulit untuk menghindar dari buai-buaian air sungai. Kemana arah air sungai ia selalu terbawa dan tak ada satupun penahan agar ia tidak bisa terbawa aliran air sungai hingga ia terombang ambing tanpa arah tujuan dan sangat melelahkan dirinya sendiri.

Hidup ini kita harus punya pondasi yang kuat agar kita tidak terombang – ambing dalam kehidupan yang serba sulit ini jangan sampai kita terjebak pada rayuan dunia yang akan menyesatkan dan membinasakan diri kita.

Semakin maju dunia maka akan semakin krisis nilai – nilai agama. Lihatlah sekarang dari perkembangan teknologi seperti HP dan internet sekarang bukan sekedar sarana untuk berkomunikasi malah untuk ajang membuka situs – situs porno atau sebagai ajang komunikasi papi – mami.

Kita tidak bisa menyalahkan siapa – siapa dalam hal ini orang tua atau perkembangan teknologinya. Yang perlu kita garis bawahin sudah kuatkah pondasi yang kita bangun pada diri kita.

Membangun pondasi yang kuat pada nilai – nilai agama dalam diri kita haruslah kita tanamkan sedalam mungkin, pondasi itu akan menjauhkan kita pada kebinasaan. Kita akan semakin takut pada Tuhan apabila kita akan melakukan hal yang dilarangNya dan kita akan semakin dekat denganNya. Jika pondasi yang kita bangun semakin kuat maka badai apapun yang datang kita tidak akan goyah. Perkembangan duniapun akan semakin indah kita nikmati karena kita dapat menemukan temen – temen dakwah lainnya dan kepada Tuhanpun kita semakin dekat.

Jika kita hidup tidak ada pondasi dalam diri kita bagaikan rumah yang luluh lantak diterpa hujan badai. Kita akan krisis aqidah, kita akan jauh dari Tuhan dan kasih sayangNya. Dan kenikmatan yang kita rasakan akan hambar rasanya. Dan kita akan terombang abing seperti kayu yang menjadi buai – buaian air sungai.

Potong Rambut dan Kuku Saat Haid, Bolehkah?

Temenku ada – ada aja dengan pertanyaannya dan akupun baru tau nih, dia bilang padaku:”apa iya kalau kita haid gak boleh potong rambut dan potong kuku gak dibolehkan”

“Emang kenapa?” tanyaku kepadanya.

Ya… nanti kalau kita potong kuku dan rambut kita akan dimintai pertanggungjawaban dialam kubur kalau potong rambut yang rontok atau sengaja kita potong dan potongan kuku tidak kita sucikan.

Lho, jadi gimana dengan rambutku yang rontok yang lupa aku sucikan dan aku nggak tau kemana aja rambut – rambutku yang rontoknya pada kemana – mana dan diapun gak nyariin aku untuk minta disucikan. Ungkapku padanya.

Hehehehe…Ya aku nggak taulah yu… orang aku aja Tanya sama kamu.

Ginin ya… kita berpatokan pada Al – quar’an dan Hadits aja atau syari’at islam. Dan pernah membaca buku, dan akupun lupa buku apa yang menjelaskan bahwa Al – quar’an maupun hadits atau syari’at islam tidak melarang wanita haid memotong kuku dan rambutnya. Dan selama aku belajar dari SD sampai MAN guruku belum pernah menerangkan hal seperti itu. Jadi kalau belum ada pembenarannya itu sama aja dengan bid’ah. Tapi semua itu kembali kepada diri kita masing – masing. Mau percaya atau enggak dan menjadikan pengetahuan kita sebagai kaum muslimin pada umumnya. Wallahu a’lam.