jingga di balik mentari

Jingga di balik Mentari
Gemuru angin menderu,rintik hujan yang enggan untuk berhenti, ku kayukan sepeda bututku yang sudah tua peninggalan dari ayahku. ini harta milikku yang paling berharga di berikan oleh orang tuaku sewaktu kecil. aku melintasi di perepatan jalan dan melaju dalam kehangatan suasana di sore hari. Andai aku bisa seperti burung pelatuk yang begitu riang terbang di atas bukit bertutupkan kabut putih yang tipis dan warna pelangi yang melingkar di atas perbukitan nan jauh di sana. Aku teringat pada masa kecilku sewaktu aku masih dalam dekapan Ayahku. Oh ayah…. Seandainya engakau masih ada mungkin aku tak akan sepeti ini, hidup dalam ketakutan, kesedihan yang membuatku lemah, maafkan aku ayah, aku tak setegar karang dan tak sekuat besi aku terlalau cengeng dalam hal seperi ini. ku gayu sepedaku dengan kencang tanpa menghiraukan burung pelatuk yang mungkin sedang menertawakan aku.
Sampai di rumah kulihat ibuku sedang berbaring lemah di atas ranjangnya, buku-bukunya tertata rapi, ku lihat alat sholatnya masih di atas lantai, mungkin ibu habis sholat ,pikirku? dan sebuah tasbih yang tak pernah tertinggal dari tangannya yang mulai keriput di makan usia. Aku berpikir “betapa tegarnya hati ibu, dia terlalu sabar menghadapi hidup ini, sholatnya begitu rajin, walupun ibu sedang sakit tapi ia masih mampu dalam mengerjakan hal ini.” Tak terasa, air mataku menetes dengan sendirinya, aku mencaci maki diriku sendiri, mengapa aku ini laki-laki begitu lemah aku tak mampu untuk melawan semua kepedihan, sholat yang dulu tak pernah aku tinggalkan kini aku lupakan aku terlalu bodoh, aku laki-laki yang tak berguna.
Ardi dari mana aja kamu, nak? Ibu dan adikmu dari tadi menunggu kamu untuk makan maffin ardi bu, ardi merumput di sekolahan bu!!! tadi kepala sekolahku bilang, setelah pulang sekolah aku di suruh merumput karena penjaganya sedang pergi ke tempat saudaranya selama satu minggu, tapi ardi gak pulang dulu bu, ardi langsung mengerjakannya dan kebetulan ardi juga dapat makan dari sana bu, ardi juga di kasih uang, ne untuk ibu!!!! Ardi, kamu memang anak baik tapi lain kali kamu harus pulang dulu ya, dan uang itu, kamu simpan untuk keperluan kamu aja ya. Sekarang kamu mandi aja dulu sebentar lagi magrib.Aku hanya mengelus-elus kepala putri adikku yang mungil dan cantik, melihat adikku aku begitu senang entah apa?? dia bagaikan permata untukku.
Di tengah malam aku mencoba untuk mendirikan sholat yang dulu setiap hari hampir tak pernah aku lupakan sesaatpun, kini hatiku sedang rapu, hatiku gunda semangatku telah hilang aku hampir tak ada pegangan untuk berjalan aku seperti lumpu dan tak berguna untuk hidup, tapi malam ini aku harus mengembalikan semangatku yang dulu aku harus jadi panutan dalam keluarga ini, aku harus menjadi contoh untuk adik ku agar aku menjadi seorang kakak yang berguna. ku ambil sejadahku yang dulu dalam lemari reot l kucium dengan rasa berdosa yang sulit ku ungkapkan dengan kata, ku berdiri pada kiblat sholatku!!!! ku membaca ayat – ayat sholatku dengan tartil begitu lirih, aku tak kuasa untuk menahan air mata ini, di setiap rukuk aku mengingat kesalahan – kesalahanku dosa-dosa yang selalu ku perbuat. Ya illahi robbi masih adakah rasa sayangMu untukku, rasa sayang untuk seoarang hamba yang nista ini…. ya Allah hamba laki-laki lemah, jadikan kelemahanku untuk menjadi lelaki yang sabar dalam menghadapi cobaan, hamba penuh dosa tapi jangan Kau palingkan aku dari Mu, sungguh aku tak sanggup jika aku jauh dariMu, ya Allah aku sangat menyayangi ibu dan adikku lindungi kami dari azabMu, kuatkan kami dalam cobaan hidup kami….”amin” ibuku menjawab dari belakang ternyata ibuku belum tidur ibu mendengar do’aku dia memperhatikan sholatku, dia langsung memeluku kami mengis bersama dalam ruangan, sampai ibu mengatakan “nak andai ibu meninggal nanti, kamu jaga adikmu dengan baik ya, sepertinya ibu gak kuat menahan rasa sakit seperti ini” gak, bu!!! Ibu harus kuat Allah memberikan cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuanya dan kita harus sabar bu’ ibu jangan berharap begitu, penyakit itu datangnya dari Allah dan kesembuhanNya akan datang darinya, kita sebagai hambanya hanya bisa berusaha dan hasilnya hanya Allah yang menentukan.
Pagi yang indah, oh mentariku aku ingin seperti sinarmu yang selalu di nantikan setiap orang, masss kalu pulang nanti bawain oleh-oleh untuk putri ya?? Iya bonekaku!!!!kamu jangan nakal ya? Bantuin ibu di rumah, Iya mas,,,, oh betapa cantik kamu putri, boneka kecilku semoga besar nanti kamu menjadi gadis remaja yang mempunyai hati seperti embun dan secerah mentari….
Teng teng teng jam istirahat, seperti biasa aku membantu ibu penjaga kantin!!! Tapi sebelum aku melangkah, Ardi kemari sebentar nak?Ibu sa’diyah, wali kelasku memenggilku. Ada apa bu? Kamu mendapat biaya siswa hari ini, karena selama ini kamu memegang juara di setiap semester. Alhamdulillah, Trimakasih ya Allah terntata apa yang aku kerjakan selama ini gak sia – sia, (bisikku dalam hati)!!!
Ardi, apa yang kamu lamunkan Ardi?
Oh nggak bu, terimakasih ya bu’ saya hanya kaget aja bu’
Kamu layak kok ardi mendapatkan hal seperti ini karena kamu anak yang rajin, dan penuh semangat dalam belajar. Oh ya ardi setelah tamat nanti kamu mau lanjut kemana? Sayang lho prestasi kamu bagus banget kok.
Belum tau bu’ kalau niat sih ada tapi gak ada biayanya bu’
Oh ya kamu sudah konsentrasi pada ujian akhir ini aja dulu, sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian akhir. Oh ya bu maaf ya, saya mau permisi dulu, karena harus membantu penjaga katin dulu. Oh ya silakan.jawabnya’’’’
Kenapa kok lambat datangnya Ar, kamu ada masalah? tanya ibu kantin
Gak ada kok bu, tadi wali kelas manggilku bu’
Kamu tu Ar, kalau belajar yang serius jangan kayak parmin tu, bisanya minta duet aja.
Aku senyum – semyum aja sebab, ibu kalau di ajak ngoceh gak ada berhrntinya.
Sore yang yang menyenangkan, banyak permainan yang di lakukan anak pemuda di kampung ini, tapi aku tidak bisa hidup seprti mereka aku harus membantu ibu, kasihan ibu dia sudah tua, tapi walupun begitu!!! aku juga masih menyempatkan diriku untuk bermain sama mereka “ hai ri, kita mincing yok” panggil temanku dari seberang sana, maaf aku gak bisa aku harus menunggu padi. jawabku, tak ada sahutan apa-apa lagi dari mereka. Ku lihat di kejahuhan sana matahari mulai tenggelam dua burung camar menukik tanpa ada beban. “Oh anadai itu diriku, betapa bebasnya hidupku “ ku jetok kepalaku ternyata aku hanyut dalam lamunan.
Oh Andai hidup ini hanya hayalan
Aku akan terus berhayal seperti burung yang terbang bebas
Andai hidup ini sebuah syair
Aku akan selalu bersyair
Hingga banyak karya puisi yang ku ciptakan
Andai hidup ini hanya sebuah lagu
Aku akan selalu berdendang
Tapiiiii…….?
Bagaimana bila hidup ini sunyi?
Apakah aku akan selalu sendiri.
Oh ibu….
Tak akan habis rasa sayangku kepadamu
Tak akan habis air lautan untuk menyejukan hatiku
Selain nasehatmu kepadaku.
Oh….
Ini hidup yang nyata, bukan khayalan
Dan juga bukan rekayasa….
Ibu…..
Tak ada yang bisa aku lakukan selain
Membantu dan berdo’a untukmu
Kau penerang hidupku…
Walau api neraka menerangiku
Aku tetap kegelapan dalam hidup
Karena hanya cinta kasihmu yang mampu menerangi jalanku…..

Setba di rumah aku langsung mandi dan sholat magrib. Ku lihat ibu dan adikku sedang menyiapkan makan malam, nak besok ujianmu yang terakhir ya,? “Iya bu” jawabku, ya sudah setelah sholat isya kamu langsung tidur ya. “ya bu”
Juni “aku lulus’ bisikku dalam hati, coretean – coretanpun terjadi di kelas. SMU N.1 Wonosari 100 % lulus semua.
Ardi kamu di panggil kepala sekolah? Kata parmin kepadaku.
Oh ya!!! Ada apa ya?
Mana aku tau coba kamu ke ruang kepsek.
Tanpa menunggu komandopun langsung menuju ruang kepsek.
Maaf pak, bapak menggilku?
“Ya, ar” ardi kamu mendapat biaya siswa dari sekolah untuk kuliah di UI.
Oh ya pak, tapi aku gak bisa pak? karena siapa yang akan menjaga adik dan ibuku.
Tapi ardi, kamu murid yang berprestasi kamu juga akan mendapatkan fasilitas yang menunjang kamu berhak mendapatkan itu.
Kamu mendapat tawaran kerja juga disana, kamu ingat ketika kamulah pemenang siswa berprestasi di sina dari 50 peljar lainnya. Sayang gak di ambil ar.!!!! Itu yang juga akan membantu biaya berobat ibu kamu dan membantu perekonomian keluargamu… kamu kuliah sekolah yang membiayai. Dan kamu mendapatkan tawaran keja di sana kalau kamu gak percaya ini suratnya. “Silakan baca”
Oh ya, kalau begitu saya kompromikan sama ibuku dulu ya pak.
Ya, tapi jangan buang kesempatan ini ar.
“Ya pak”
Owh malam ini hujan gak pula reda, kulihat ibu masih khusuk dalam sholat isyanya, lalu aku pergi kedapur membuat minuman jahe angat buat ibu. Sepertinya ibu dah tau aku lulus ne.
Ku buka jendela kamarku dan melihat keluar sembil menum air jahe hangat, hujan rintik telah membasahi rumput – rumputan di luar sana.
Bila ku belari di kejahuan sana…..?
Akankah aku bisa pulang dengan hati sedamai ini
Akankah aku bisa memberikan yang terbaik buat ibu ku
Tapi aku harus bisa belari dengan mengejar mimpi
Yang sudah ada di depan mataku….
Oh….
Apa ini hanya mimpi belaka
Bisakah aku melewati semua ini dengan kesabaran yang tak pernah aku miliki
Aku terlihat egois bila aku berlari hanya untuk kepentingan
Tapi demimu ibu….
Aku rela melakukannya
Tapi bila ini murkamu maafkan aku ibu…
Pagi hari yang cerah, embun yang menetes di bunga mawar ibuku menambah keindahannya sendiri, dan bumi yang basah setelah hujan semalem menamba dinginnya suasana pagi ini. tapi kicau burung yang enggan berhenti membuatku ingin tertawa sendiri sepertinya dia mengejekin aku.
Nak….!!! Kata ibuku” ya bu” jawabku.
Ibu mengizinkanmu nak, raihlah masa depanmu yang gemlang, tapi satu pesan ibu “jangan lupa beribadah”. ibu akan bangga melihatmu berhasil nak, kamu putra ibu satu – satunya “ jangan kecewakan ibu” dan adikmu.
Alhamdulliah, ku peluk ibu dengan erat sebagai tanda rasa kasihku padanya “Ya” bu, insyallah aku akan membuat ibu bangga terhadapku dan pesan ibu akan selalu ku ingat.
Putr adikku yang lugu melihatnya meneteslah air mataku, aku gak tega meninggalkannya tapi inilah kenyatan demi perubahan nasib keluarga aku harus bejuang.
Keluguanmu membuatku sedih
Kegembiraanmu membuatku damai
Tangismu membuatku ingin selalu memelukmu
Putrid adik keilku yang imut dan cantik…
Kau perisai hidupku
Kau semangat perjuanganku…
Tak ku biarkan tangan jahil menyentuhmu
Tak ku biarkan kau menderita dalam hidupmu….
Kau jiwaku putrid adik kecilku….
Jadilah kau wanita yang tangguh dalam hidupmu….
Terima kasih bu untuk semuanya bisikku aku tak akan pernah melupakan kalian, pergiku untuk kita semua. Jadi jangan kuatirkan saya ya bu. Ibu hanya diam sepertinya dia tahu kalau aku akan selalu berjuang untuk keluarga.
Kulihat warna jingga di balik mentari yang akan mewarnai perjalananku hari ini, sianarnya begitu sejuk, sesejuk hatiku. Ibupun tersenyum melihat kepergianku. Terima kasih ibu rasa saysngmu akan selalu ada di hatiku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: