“Pengharapan Kasih untuk Ayah”

“Pengharapan Kasih untuk Ayah”

Malam yang mencekam

Sunyi sepi dan redup sinar sang rembulan

Cahaya bintang berkilau bagaikan permata

Seorang ibu yang bergelut dengan maut

Tatkala ia mengempiskan perutnya yang berisi seorang bayi

Senin, 20 April

Pukul 02.30 wib

Jerit tangis seorang bayi di tengah temaramnya kegelapan

Yang hampir mendekati sang pajar…

Allahhuakbar…

Suara lirih seorang laki – laki ditelingaku

Ayah…

Ayah…

Lembut tangannya memelukku

Itukah suara ayahku

yang pertama kali aku dengar dan bukan ibu

22 tahun sudah berlalu…..

Seorang bayi itu kini sudah dewasa

Menjadi seorang anak perawan yang elok

Akankah kau tetap memberikan kasih sayangmu seperti dulu

yang telah kau bagikan dengan yang lain

kini ia menuntutmu dengan semua itu…

ah ayah…!

andai kau tau…

ada sejuta misteri dalam hidupku

yang ingin aku utarakan kepadamu

Aku bagaikan pungguk merindukan bulan

Mengharapkan sesuatu yang tak pernah ada

Ayah…

Saat ini aku rapuh

Rapuh untuk berjalan sendiri

Aku butuh sebuah tongkat yang kokoh

untuk membantukku berjalan dengan baik

dan itupun tak pernah kau tau, bukan?

Ayah…

Ayah…

Belum hilang rasa sakit pada diri ini

Namun kau telah menorehkan luka baru pada jiwaku

Aku hampir kehilangan kendali

Apakah engkau pantas untuk aku benci?

Berdosa sekali aku

Bila rasa benci itu muncul dalam diriku

Ayah

Apakah ini bentuk sebuah penghiatan darimu…..

Hingga kau begitu cepat melupakan kasih sayangmu untukku

Ah ayah…

Aku masih belum mengerti

Aku terlalu lugu…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: