Surat Rindu Ayu ke-22

Surat rindu ayu ke-22

Kepulan kabut pagi masih menyelimutin rumahku, embunpun berkilauan bak mutiara bermain diatas daun keladi yang berada didepan rumahku, sepertinya hujan turun sangat deras, tadi malam, sehingga suhu undara di pagi ini sangat dingin. Dinginnya sampai ketulang sum-sumku. Ini memang bulan musim penghujan dimana hampir setiap hari hujan turun membasahi kota kami, beruntungnya kota kami bukan kota yang rawan akan banjir seperti kota Jakarta, Bogor, Bekasi dan kota lainnya yang hampir terkena banjir setiap musim penghujan. Setelah menghabiskan a cup of tea dengan sepotong roti tawar langsung kupakai jaket tebal sebagai penghangat tubuh.

Entah mengapa, sang surya belum juga menampakan wujudnya, apa dia menggigil sehingga ia bersembunyi di balik awan. O o tidak itu sebuah pikiran yang konyol. Dengan mengendarai sepeda motor dan jaket tebalku, aku menerobos pagi yang masih diselimutin kabut dan menuju tempat kerja. Ditengah perjalanan perlahan – lahan mentari yang aku kira takut akan kedinginan kini ia sangat gagah dengan menunjukan cahayanya dan seketika itu juga kabut – kabut yang menyelimutin seluruh kotaku perlahan – lahan mulai menghilang. Dinginpun tak lagi aku rasakan cuaca berganti dengan cerah, hingga pagi nampak begitu indah, bunga-bunga disekeliling kota bermekaran, tetesan embun dari daun – daun nampak begitu indah untuk dipandang. tapi pagi tak secerah hati ini yang diliputin rasa kerinduan yang tak berujung.

Esok hari “Ultahku” yang ke-22 tahun, dimana aku sangat merindukan orang yang ter-kasih berada didekatku. orang yang telah membawaku telahir didunia yang penuh dengan aneka warna ini. Apa yang bisa aku berikan untuk dia esok? bukan emas, permata atau harta benda yang termahal lainnya. bukankah ia tak membutuhkan itu, bukan?. Ia hanya membutuhkan serangkaian bunga dan do’a, itu yang ia dambakan saat ini, bukan? pikiranku menjadi buntu untuk hari esok. tidak seperti biasa aku terdiam ditempat kerja dan hanya sekilas senyum yang bisa aku lemparkan kepada teman-teman kerja yang menyapaku.

Diruang yang lumayan besar dan sebuah meja Olympic plus kursinya aku termangu dengan sebuah pena standar dan selembar kertas kuarto berada didepanku akupun mulai menulis:

Dear My Mother,

Ibuku tersayang, apa kabarnya engakau dialam sana semoga engkau dalam keadaan baik – baik saja.

Ibu, ini surat yang ke-22 dimana sudah 22 tahun yang lalu aku terlahir didunia dan belum ada setengah umurku yang ke-22 engkau telah meninggalkan aku.

Ibuku tercinta dan yang paling aku sayangin, walau sekarang engkau tidak menemani dalam keseharianku tapi percayalah engkau tetap ada dihatiku dan setiap do’a – do’aku.

Ibuku terkasih, engkau yang paling dekat dihati ini, andai engkau tau sekarang aku telah dewasa dan mandiri. Pasti engkau akan membanggakan anakmu ini.

Ibuku terkasih, semoga Allah mengampuni segala dosa – dosamu dan engkau diberikan tempat yang layak disisinNya. Amin…

Ibu yang paling aku sayangin, lewat surat yang tak pernah sampai ini, aku menyimpan sejuta kerinduan buatmu dan mendambakan do’a dan restumu untuk menjadi anak yang sholeha dan sukse selalu. Amin…

Terima kasih Ibu atas segala bentuk perhatian yang pernah engkau berikan kepadaku.

Putrimu tersayang…

Happy Birth Day Ayu… sebuah lagu yang terdengar keras dari luar pintu kamarku, dengan memakai jilbab sekenanya aku beranjak dan membuka pintu kamar, “Astagfirulah…!”

Aku terkaget kan, dengan kedatangan temen – temen sekantorku. “wah ini bener – bener surprise” kataku… lena melanjutkan lirik lagunya “tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga” dengan diikuti 5 orang temenku lainnya, widi, lia, rahman, aqil dan sultan. “mereka sangat kompak”. bisikku dalam hati. tanpa ragu – ragu aku meniup lilinnya dan plukkk…!!!! sebuah telur busuk dilempar dikepalaku, oleh sultan. suara tawa merekapun tak terkendalikan lagi. Happy Millad Ayu, maafkan kami sebelumnya tanpa memberi tahukan kamu terlebih dahulu kedatangan kami. permintaan maaf sultan kepadaku dengan senyum cengar – cengirnya yang berhasil memberikan kejutan ini kepadaku.

Kalau di kasih tau nggak surprise donk..!!!! timpal aqil.

Iya……!!!! komentar yang lainnya.

Trimakasih atas semuanya, aku ucapakan kepada kalian semua yang telah repot – repot dipagi hari ini untuk bertandang kerumahku.

Ok! Kalau begitu ketempat kerja, kita bareng – bareng aja, biar lebih asyik ceritanya… ide widi

That’s right…sultan menyetujui idenya widi.

Ok! Why Not. timpalku. dengan bergegas aku menyiapkan diri pergi kekantor secepat kilat akupun sudah siap berangkat pergi dan tak lupa pamit sama abangku.

Kita menggunakan satu kendaraan yaitu mobilnya sultan sedangkan kendaraan yang lain kita tinggal di rumah ayu. Eeeee… sebentar dari tadi aku mau bilang tapi lupa terus, “apaan sih yu?” kalian kok tau hari ini Ultahku?, mereka pada senyum – senyum gak jelas dan buru – baru masuk kedalam mobil inova miliknya sultan. “kamu mau tau yu?” salah seorang dari mereka menjawab.

Dengan bersamaan kecepatan mobil mereka menjawab, ka-mi mem-ba-ca su-rat-mu ke-ma-rin…. aku hanya tersipu dan mereka gak bersalah hanya aku sembrono meletakan surat itu diatas meja. Itulah surat ke-22ku dan mungkinkah akan terjadi pada suratku yang ke-23. I don’t know…. dengan senyum kecil aku merasakan kebahagian yang aku dapatkan dari teman – temanku. Luar biasa………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: