Archive for Agustus, 2009

Masih adakah pondasi itu…..

Lihatlah sebongkah kayu yang terombang ambing pada derasnya air sungai dan ia terjebak pada situasi yang sulit untuk menghindar dari buai-buaian air sungai. Kemana arah air sungai ia selalu terbawa dan tak ada satupun penahan agar ia tidak bisa terbawa aliran air sungai hingga ia terombang ambing tanpa arah tujuan dan sangat melelahkan dirinya sendiri.

Hidup ini kita harus punya pondasi yang kuat agar kita tidak terombang – ambing dalam kehidupan yang serba sulit ini jangan sampai kita terjebak pada rayuan dunia yang akan menyesatkan dan membinasakan diri kita.

Semakin maju dunia maka akan semakin krisis nilai – nilai agama. Lihatlah sekarang dari perkembangan teknologi seperti HP dan internet sekarang bukan sekedar sarana untuk berkomunikasi malah untuk ajang membuka situs – situs porno atau sebagai ajang komunikasi papi – mami.

Kita tidak bisa menyalahkan siapa – siapa dalam hal ini orang tua atau perkembangan teknologinya. Yang perlu kita garis bawahin sudah kuatkah pondasi yang kita bangun pada diri kita.

Membangun pondasi yang kuat pada nilai – nilai agama dalam diri kita haruslah kita tanamkan sedalam mungkin, pondasi itu akan menjauhkan kita pada kebinasaan. Kita akan semakin takut pada Tuhan apabila kita akan melakukan hal yang dilarangNya dan kita akan semakin dekat denganNya. Jika pondasi yang kita bangun semakin kuat maka badai apapun yang datang kita tidak akan goyah. Perkembangan duniapun akan semakin indah kita nikmati karena kita dapat menemukan temen – temen dakwah lainnya dan kepada Tuhanpun kita semakin dekat.

Jika kita hidup tidak ada pondasi dalam diri kita bagaikan rumah yang luluh lantak diterpa hujan badai. Kita akan krisis aqidah, kita akan jauh dari Tuhan dan kasih sayangNya. Dan kenikmatan yang kita rasakan akan hambar rasanya. Dan kita akan terombang abing seperti kayu yang menjadi buai – buaian air sungai.

Iklan

Potong Rambut dan Kuku Saat Haid, Bolehkah?

Temenku ada – ada aja dengan pertanyaannya dan akupun baru tau nih, dia bilang padaku:”apa iya kalau kita haid gak boleh potong rambut dan potong kuku gak dibolehkan”

“Emang kenapa?” tanyaku kepadanya.

Ya… nanti kalau kita potong kuku dan rambut kita akan dimintai pertanggungjawaban dialam kubur kalau potong rambut yang rontok atau sengaja kita potong dan potongan kuku tidak kita sucikan.

Lho, jadi gimana dengan rambutku yang rontok yang lupa aku sucikan dan aku nggak tau kemana aja rambut – rambutku yang rontoknya pada kemana – mana dan diapun gak nyariin aku untuk minta disucikan. Ungkapku padanya.

Hehehehe…Ya aku nggak taulah yu… orang aku aja Tanya sama kamu.

Ginin ya… kita berpatokan pada Al – quar’an dan Hadits aja atau syari’at islam. Dan pernah membaca buku, dan akupun lupa buku apa yang menjelaskan bahwa Al – quar’an maupun hadits atau syari’at islam tidak melarang wanita haid memotong kuku dan rambutnya. Dan selama aku belajar dari SD sampai MAN guruku belum pernah menerangkan hal seperti itu. Jadi kalau belum ada pembenarannya itu sama aja dengan bid’ah. Tapi semua itu kembali kepada diri kita masing – masing. Mau percaya atau enggak dan menjadikan pengetahuan kita sebagai kaum muslimin pada umumnya. Wallahu a’lam.

Suamiku Pencemburu

Temen – temen disekelilingku kalau kuperhatikan tingkah lakunya aneh – aneh. Ada yang taat banget sama agama, ada yang bener – bener gak peduli sama agama, dan ada yang sedeng – sedeng aja. Namanya juga temen selagi kita berada di jalan lurus kita berikan nasehat kepadanya dengan cara tanpa merasa ia merasa lagi di nasehatin. Tapi semuanya kembali kepada manusia itu sendiri sadarkah ia dengan kelalaiannya.

Ada salah satu diantara temen – temenku bilang sholat itu bukanlah gerakan saja tapi hati juga harus tergerak, ia melakukan sholat tapi hati dan pikirannya masih tersimpan penyakit hati. Apakah cemburu bisa termasuk dari penyakit hati.

Sore itu di Aklantum Club kami berolaraga bermain bola volly. Banyak ibu – ibu yang menghabiskan sorenya dengan berolaraga bersama kami yang cukup menguras tenaga keringatpun mengucur deras, “game 25 – 15” permainanpun selesai kami bergantian dengan pemain – pemain lain. Di samping lapangan terdapat rumput luas nan hijau di bawah pohon belimbing kami beristirahat bersama. Sambil menikmati istirahat mulai deh ibu – ibu itu merumpi hingga aku tertarik dengan perbincangan y sebut saja namanya nita yang mengeluh masalah suaminya yang “SUPER PENCEMBURU” eh anak kecil gak boleh ikut masalah ibu – ibu ya… ya aku hanya diem aja kok tanpa ikut nimbrung tapi suaranya keras banget akhirnya aku denger juga.

“suamiku pencemburu, aku benci melihatnya” kata bu Nita

“itu tandanya ia cinto banget sama kamu” jawab bu Diana

“tapi kalau sudah kelewatan cemburunya, itu bukan cemburu tapi curiga”

Apa bedanya cemburu sama curiga? Nggak tau

Ya nita, kalau laki nga cemburu itu tandanya ia punya perhatian yang lebih untuk kau. Dari pada kau di cuekin nggak enak kan. Bu Dwi memberikan komentarnnya.

Obrolan mereka begitu riu dan akupun beranjak pergi meninggalkan rumpian takut ngegosip dan menimbulkan fitnah. Dimana – mana ibu – ibu hobbi ngerumpi “emang dasar wanita”

Dari rumpian mereka ada satu kata yang menarik yaitu “Cemburu” jadi cemburu itu tandanya apa ya, perhatiankah?, cintakah? Atau Curiga dan prasangka? 3 pertanyaan yang melekat dikepalaku. Kok jadi kepikiran juga ne. wajarkah rasa cemburu itu kita miliki atau tidak?

Belajar dari Serumpun Bambu

Bersantai – santai dibawah serumpun bambu sambil membaca dan memetik gitar atau sekedar duduk – duduk manis bisa memberikan kedamaian hati dan pikiran yang sedang suntuk selain suasananya fresh dan tiupan angin yang membuat pohon – pohon itu menari – nari bersama bak penari latar di atas panggung. Belajar dari serumpun bambu, coba kita perhatikan, serumpun bambu tumbuh dengan pelan dan perlahan, memperkuat akar – akarnya, membentuk tunas, menyembul keatas tanah sebagai rebung dan dalam hari menjadi bambu muda yang tumbuh menjulang selanjutnya, membentuk ranting – ranting, menghiasi tubuhnya dengan daun – daunnya yang selalu hijau sepanjang tahun, dan menundukan ujungnya ketika pertumbuhannya telah maksimal. Belajar dari serumpun bambu. Pertama, untuk menggapai kesuksesan kita perlu membuat fondasi yang kuat dalam diri kita, dengan membekalin diri kita dengan kekuatan ilmu, strategi, dan sedikit kekuatan materi untuk memberi tempat yang nyaman tanpa ada fondasi yang kuat minimal skill itu harus kita miliki kita tidak akan bisa merahi sukses. Kedua, jika fondasi yang kita miliki menjadi kuat barulah kita mengembangkan sayap diri kita dengan perlahan step by step tanpa harus tergesa – gesa, pertumbuhan tahap – bertahap itu lakyaknya bambu yang tumbuh menjulang ruas demi ruas. Ketiga, jika tahap – tahapan itu sudah menjadikan kita pada puncak kesuksesan dengan waktu yang tidak bisa kita hitung berapa lama prosesnya ada baiknya kita merunduk untuk melihat kebawah, tawadhu’ dan mengoreksi diri. Lihatlah pohon bambu itu tidak sendiri, ia tumbuh besar bersama dengan yang lainnya oleh karena itu kita menjadi orang yang sukses jangan lupa kepada orang – orang yang banyak membantu kita dalam mencapai kesuksesan kita. Dibalik kesuksesan kita pasti ada orang yang kuat dibelakang kita, mereka adalah istri – istri kita atau suami – suami kita, saudara – saudara kita, teman – teman dekat kita dll. karenanya kita cukup kuat. Lihatlah serumpun bamboo itu, serumpun kekuatannya dibarengin dengan kelenturan. Keempat, setelah sukses kita jangan lupa kepada yang memberikan Rizki yang melimpah ruah kepada kita, “hati” yang kita miliki harus tetap lentur tidak goya menghadapin cobaan yang datang menerpa dan tidak lupa mengerjakan perintah agama dan kewajiban – kewajiban kita sebagai hamba Allah swt. Agar kita tetap menjulang dan menjadi besar karena kita merawat tunas – tunasnya dengan baik. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib seorangpun kecuali ia mau merubahnya”