Hati Yang Tersakiti

Hati yang tersakiti

Pertama kali aku mengenalmu semuanya biasa-biasa saja dan ketika kau menyatakan kata cintamu padaku, juga biasa saja walaupun itu baru “kau” yang pertama berani “tak ada yang istimewa yang ku lihat dari dirimu, sehingga kuterima engkau menjadi kekasihku hanya untuk mengisi kekosongan hati dan kegiatanku sehari – hari atau lebih tidaknya hanya sebagai temen ngobrol”. “temen ngobrol” itulah yang melintas dipikiran dan benakku saat itu, tapi entah dari mana asalnya mulanya rasa sayang begitu besar muncul, akupun tak tau itu? Seiring berjalannya waktu aku takut untuk kehilangan dirimu, seperti air yang mengalir tenang yang terus mengalir hingga ia mendapati samudra yang luas dan bersatu dalam gelombang – gelombang air yang sangat cantik untuk dipandang oleh mata, “engkau telah menghayutkan aku dalam gelombang-gelombang cintamu”. Kucari titik temu antara perasaan dan cinta yang sesungguhnya pada diriku dan dirimu, “ah” aku peka untuk masalah hati dan perasaanku sendiri… “kau begitu cantik” itu rayuanmu yang pertama kali, ketika kita masih duduk di bangku SMA. Dimana melodi – melodi cinta yang selalu kita dendangkan berdua, roman picisan kita ditepian air yang mengalir di watervang mengawali kisah cinta kita yang mulai merekah indah bak bunga mawar yang merekah indah di taman cinta kita. Dengan kebersamaan kita dengan jadwal yang selalu kita buat tanpa kita menyadari menjadi rutinitas kita seperti jalan bersama pada hari minggu yang sudah menjadi agenda kita untuk sekedar jalan, makan, jogging dan mengerjakan tugas bersama, akhirnya kita terjerat dalam pertalian “pacaran” walau kita masih terbilang masih sangat belia namun “cinta” telah menghipnotis kita menjadi manusia dewasa, itu tak dapat kita hindari bukan?

 

Itu pertama kalinya “aku jatuh cinta” entah itu cinta monyet entah apa tapi diantara kita seperti ada sebuah magnet yang selalu bertarik-tarikan satu sama lain. dan kulabuhkan hatiku padamu. “kau sangat menarik” bisikmu padaku malam itu dimana bulan purnama bersinar terang dan cahaya gemintang bak permata didalam estalase. Aku hanya diam tersipu malu ketika tanganmu meraih jemari – jemariku, dag,dig,dug… jantungku berdebar kencang, aliran darahku seperti membeku, dengan tersipu kutarik kembali tanganku dan kulambaikan, “da..da…da… good night”. Kaupun tersenyum manis padaku, malam itu begitu berarti buatku.

Entah mengapa engkau bisa memilih wanita yang lugu ini, yang jelas – jelas banyak para gadis yang berusaha mencari perhatianmu, dan kepala – kepala yang ingin bersandar dipundakmu… “apa kau tak merasakan itu?”. Pilihanmu untuk menjadi kekasihmu jatuh padaku, akupun tak tau apa istimewanya aku. Kami bagaikan dua ekor kupu – kupu yang menari ditaman cinta yang kami miliki dan tak menghiraukan banyak mata yang iri pada tarian kami, karena hari itu musim semi dimana bunga-bunga bermekaran dihati kami yang sedang dihinggapi virus merah jambu”

Lima tahun kini sudah berlalu, itu hanya masa – masa SMA, dimana aku baru pertama kali mengenal pria sepintar dan setampan dia. “Ingatkah engkau pada rintik hujan ini” dimana kita selalu menantikannya di bendungan air terjun temam ketika kau teriakkan tiga kata cinta hingga suaramu menggema-gema. Dan masih banyak janji yang kau berikan padaku “masih ingatkah engkau pada satu botol sprite yang kita tanam di bawah batang mangga didepan rumahku?” Ah, itu hanya kenangan – kenanganku yang indah ketika masih bersamamu. Kini aku dalam penantian yang tak berujung karena sampai saat inipun kau tak pernah muncul dan mendapatkan kabar darimu…

Ditengah rintikan malam dan lamunanku, sebuah mobil Inova berwarna perak berhenti tepat di depan mataku, disebuah toko “Roti Mariah” dimana tempatku bekerja sekarang karena keterbatasan biaya aku tak bisa melanjutkan study kejenjang yang lebih tinggi. toko ini sebentar lagi akan tutup tapi aku terpangah dengan sosok laki – laki turun dari mobil dengan terburu – buru ia membukakan pintu mobil yang satu lagi. Hatiku mulai dag-dig-dugkan… aliran darahku seperti berhenti aku mulai menerkah – nerkah, apakah ia “Andre” kekasihku dulu. Kekasih yang sampai sekarang aku nantikan, rasa cemas dan penasaran menggelayuti pikiranku, apakah ia tahu kalau aku kerja di toko ini hingga ia ingin menemuiku akupun mulai kegeeran, ah, jangan lebai dunk na’? “kataku dalam hati” mungkin aja ia ingin membeli sesuatu di toko ini atau kebetulan tinggal toko roti ini yang sedang buka malam – malam. Ah, hatiku semakin resah aja.

Upzz…. Benarkah apa yang kulihat sekarang ini? seorang wanita cantik dengan mengenakan baju gamis dengan stelan jilbab panjang berwarna putih keemasan turun dari mobil bersama andre. Akupun mulai mundur secara teratur, langkah demi langkah, kulihat disana hujan rintik begitu deras, “ah” andre apakah kau tak ingat dengan hujan rintik ini, apa engkau memang tak mau mengingatnya. Kulihat ia dari balik kaca dapur, kupandangin ia dari jarak yang lumayan jauh. Dia sudah banyak berubah dari yang dulu pernah kukenal, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhku aku tak kuat melihat kemesraan yang mereka tampilkan berdua, ingin rasanya aku lemparkan nampan kue ini kekepalanya….

Lama aku termangu dibalik kaca dengan bercabik – cabik luka yang tanpa jatuh dari langit ketujuh tapi aku merasakan goresan luka itu semakin parah.

Ana…. Ada yang mau pesen kue pengantin ne, coba kamu layani dulu ya… aku terkagetkan dengan mbak selvi, emang kalau bagian kue pengantin bagianku karena banyak pelanggan yang sangat terpuaskan dengan buatan kue pengantinku yang begitu unik dan enak jadi nggak salah kalau aku menjadi “pegawai emas” di tempat ini.

Dengan mata berkaca – kaca aku melangkah, mau kue seperti apa pak? Kataku dengan memendam gejolak rindu yang tak terbendung lagi, rasa malu karena pendidikan rendahku, entah rasa apa yang hinggap di hatiku. Taukah kamu tanpa dengan pisau tajammu kau mampu menusuk diriku tepat pada “jatung hatiku” apakah kau merasakannya?. Aku yakin kau tak merasakannya karena terlalu larut dalam kebahagianmu sendiri, aku terlalu bodoh? Menunggu mahkluk laki – laki sepertimu hingga mengabiskan waktu lima tahun hanya kesia-sia yang kudapat.

Emm… ana? Keterkejutan yang kau pancarkan dari muka penghiatan darimu hanya membuatku semakin enek melihatmu. Kamu tau betapa ingin aku membunuhmu saat ini juga tapi itu tidak mungkin karena aku terlalu sayang padamu. Dulu hati ini sangat bahagia bila ada didekatmu tapi sekarang hati ini tersakiti tepat terakhir kalinya aku mendapatimu ditempat yang sama sekali tak kuduga. Jelas pada saat rintik hujan yang sudah kita tunggu sejak lama tapi rintik hujan itu hanya membuat perih luka dihatiku.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: