Perempuan – Perempuan Berkebaya

Perempuan – Perempuan Berkebaya

Minggu pagi, saya adalah dari sejumlah perempuan berkebaya berkumpul di tengah – tengah lembaga STKIP Lubuklinggau, sejumlah rasa berkecamuk didalam dada, sejumlah hapalan – hapalan atau kopelan telah berada dalam ingatan dan kertas kecil putih. Pagi itu, kami bagaikan pengantin masal yang menunggu giliran untuk menanti penghulu yang siap untuk menikahkan kami, “yuk kita giring pengantinnya” sela seorang dosen yang berada di tengah – tengah kami, dan senyum simpul terlihat di bibir yang besolekkan lipstick yang beraneka warna…

“Uhh!” kita seperti finalis penyanyi dangdut ya? Sela temen – temen yang lain… Upzzz… saya enggak ikutan ya’…

dari sekian perempuan berkebaya saya mungkin salah satu yang tidak banyak mengenakan pernak – pernik, make upku aja sekenanya aja asal jangan dibilang terlalu polos aja dan gak menggunakan bulu mata palsu yang akan terlihat semakin lentik dan membuat mata indahku.

“Ih gak cantik banget, wong disuruh dandan aja gak mau” celetuk temenku

Ayu.. kamu gak pake make up? Tanya panca.

Emmm… “ah” gak pake aja udah cantik ca’ coba lihat bulu mataku dah lentik, bibirku dah merah. Ih kamu gak cantik banget deh…

Cantik itu gak perlu dandankan…

“wanita gitu lho” jawabnya

Pemandangan pagi itu membuat mata menjadi fresh walaupun rasa deg…deg…degkan sangat terasa, walaupun begitu semangat bermake up riah tak surut dari temen – teman yang tidak pernah sekali menggunakan make up bisa bermake up.

“Ini ujian apa kontes kecantikan?” gumamku dalam hati.

Perempuan berkebaya itu mulai lusu make up di wajahnya tak terlihat lagi, habis bersama menjelang siang, rasa penat terus menyelubunginnya hingga ia tak menghiraukan make upnya. Permpuan berkebaya itu mulai memikirkan jawaban – jawaban apa yang akan mereka berikan saat penguji bertanya. Hatinya mulai berkecamuk saat suara dari microphone memanggilnya dan menghadap penguji…

Perempuan berkebaya itupun terlihat keletihan sepatu high killnya yang dipakainya berganti dengan sandal jepit biasa “totonan yang sangat istimewa” haripun semakin siang tatkala dimana sebagian dari sejumlah perempuan berkebaya telah menyelesaikan ujiannya dan beranjak pulang…

Tapi kami harus menunggu lebih lama penguji kami sedang ada kendala di tengah jalan hingga kami harus menunggu jam 4-an untuk menunggunya sedangkan ini baru jam 2-an waktu yang lumayan buat tidur siang dirumah.

Kelitihan sangat nampak pada perempuan berkebaya itu, bisa dibayangkan kami harus mengenakan kebaya dari pagi sampai malam menjelang itu hal yang sangat membosankan.

Dibawah tangga yang tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu rendah perempuan berkebaya itu bercengkraman satu sama lain. Entah apa yang ada dibenak mereka masing – masing semua rasa mungkin telah berganti dengan rasa kebosanan.

Jam yang dijanjikanpun telah lewat gerutukan – gerutukanpun terucap dari mulut perempuan berkebaya. Hingga diantara mereka ada yang membatalkan puasanya dan akupun tak tau apa yang membuat mereka melakukan hal itu…

Hal yang telah lama dinantipun tiba, sekitar jam 5 lewatan penguji yang dinantipun tiba, tak enya’ sinar suka terpancar dari muka yang telah lusu dari kebosanan.

Setelah istirahat sebentar, satu – satu dari perempuan berkebayapun menghadapnya sekali menghadap bertiga, rasa deg..deg..deg-anpun muncul kembali pada perempuan berkebaya itu.

Pending, azan magrib telah tiba. Buka puasa yang sangat mengesankan perempuan berkebaya itu duduk diemperan didepan ruangan lembaga STKIP, tak banyak makanan yang dimakan kecuali minuman fresh tea dan isotonic yang cukup melegahka tenggorokan sambil bercengkraman satu sama lain dan segelintir diantara mereka yang melaksanakan sholat magrib…

Ini giliranmu ya yu’ kata temenku

“Iya”, ini adalah akhir dari perjuangan kita kan.

Kalian tau kupu – kupu… Tanya penguji kepada kami?

“Tau pak” jawab kami bertiga.

Lihat kupu –kupu sebelum menjadi kupu-kupu bentuknya sangat buruk tapi setelah terjadi metaforposis ia sangat cantik bahkan banyak yang memuji…

Tuhan telah memberikan contoh yang paling indah, dan itu adalah contoh yang harus kalian tiru…

Kalimat yang sederhana dan akan selalu terngiang untuk ketiga perempuan berkebaya…

Dek’ kalau saya lewat sungai ini kira – kira saya akan tenggelam atau nggak?

“Nggak kok bang, sungainya dangkal kok” salah satu dari mereka berkomentar.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: